I Do Love You
06 Nov, 2026
Aku tidak pernah benar-benar merasa mencintai hidupku selama ini.
Sering kali, aku merasa bahwa keberuntungan tidak pernah berpihak kepadaku. Seolah-olah, orang-orang di sekelilingku memiliki sesuatu yang tidak pernah bisa kumiliki: kesempatan untuk tumbuh bersama orang-orang yang mereka cintai.
Aku telah menyaksikan bagaimana satu per satu orang meninggalkanku di dunia yang fana ini. Dan kehilangan yang paling membekas dalam hidupku adalah kepergian ayahku sendiri.
Aku masih mengingat hari ketika alam seolah ikut berduka atas kepergiannya. Angin bertiup begitu kencang, bergemuruh, memecah kesunyian dengan suara yang menakutkan. Seakan-akan dunia sedang mengantarkan seseorang yang begitu berarti menuju tempat yang tidak lagi bisa kujangkau.
Aku ingat wajah ibu dan kakak perempuanku menangis dengan kesedihan yang begitu dalam, seolah separuh dari kehidupan mereka ikut pergi bersama ayah. Dengan segala kekuatan yang tersisa, mereka berusaha menerima kenyataan bahwa seseorang yang selama ini menjadi bagian dari hidup mereka tidak akan pernah kembali.
Sementara itu, aku masih terlalu kecil untuk memahami semuanya. Usiaku mungkin baru lima tahun. Aku belum mengerti bahwa kematian berarti perpisahan yang tidak memiliki jalan pulang.
Aku hanya melihat kakak perempuanku menangis. Aku melihat ibu kehilangan seseorang yang begitu dicintainya. Namun, anehnya, aku tidak merasa sedih. Setidaknya, belum saat itu.
Hari-hari tetap berjalan seperti biasa. Aku tumbuh tanpa benar-benar memahami apa yang telah hilang dari hidupku.
Sampai usiaku menginjak delapan tahun.
Aku mulai memperhatikan teman-teman sekolahku yang dijemput oleh ayah mereka. Ada yang melambaikan tangan dengan riang, ada yang berlari menghampiri ayahnya, ada pula yang bercerita sepanjang perjalanan pulang.
Pemandangan sederhana itu membuatku diam-diam bertanya kepada diri sendiri.
Bagaimana rasanya dijemput oleh ayah sendiri?
Pertanyaan itu mungkin terdengar sederhana bagi anak-anak lain. Namun, bagiku, pertanyaan tersebut menjadi awal dari kesadaran bahwa ada sesuatu yang tidak akan pernah kumiliki lagi.
Hari berganti bulan, bulan berganti tahun. Aku tumbuh semakin dewasa, begitu pula pemahamanku tentang kehilangan. Perlahan-lahan, aku menyadari bahwa hidup tanpa seorang ayah terasa seperti berjalan hanya dengan satu kaki. Aku masih bisa melangkah, tetapi tidak pernah benar-benar seimbang.
Aku berusaha menyimpan perasaan itu sendirian. Menyembunyikan kerinduan yang sesekali datang tanpa permisi. Aku ingin ayah kembali. Aku ingin mendengar suaranya, melihat wajahnya, dan merasakan kehadirannya seperti anak-anak lain yang masih memiliki kesempatan untuk tumbuh bersama ayah mereka.
Namun, di tengah kesedihan yang begitu lama kupelihara, aku lupa memperhatikan seseorang yang selama ini berjuang mati-matian agar aku tetap bisa menjalani hidup.
Ibu.
Aku bahkan tidak tahu bagaimana harus menggambarkan sosoknya. Menyebutnya sekadar manusia terasa tidak cukup. Bagiku, ibu adalah malaikat yang Tuhan titipkan untuk memastikan bahwa aku dan kakak perempuanku tetap memiliki tempat untuk pulang.
Selama ini, tanpa benar-benar kusadari, ibu telah melakukan begitu banyak hal untuk kami. Ia bekerja keras, mengorbankan waktu, tenaga, bahkan mungkin kebahagiaannya sendiri, hanya agar anak-anaknya dapat terus menjalani kehidupan.
Ia menjadi seseorang yang harus kuat ketika keadaan tidak memberinya pilihan untuk menjadi lemah. Ia memikul tanggung jawab yang seharusnya tidak mudah ditanggung seorang diri. Ia berusaha menjadi segalanya bagi kami, bahkan ketika mungkin dirinya sendiri membutuhkan seseorang untuk bersandar.
Dan semakin dewasa aku, semakin aku memahami betapa luasnya kasih sayang seorang ibu. Barangkali, gunung dan bukit pun tidak cukup untuk menggambarkan besarnya cinta yang selama ini ia berikan.
Aku kembali memperhatikan wajahnya. Berusaha mengingat setiap detail yang mungkin dahulu sering kulewatkan begitu saja. Rambutnya yang keriting, matanya yang sipit, dan senyumnya yang sederhana. Senyum yang entah mengapa selalu berhasil membuat dadaku terasa sesak.
Oh, Tuhan.
Aku tidak pernah tahu berapa lama lagi waktu akan memberiku kesempatan untuk berada di sampingnya. Aku tidak tahu kapan kehidupan akan membawa kami pada perpisahan yang tidak bisa dihindari. Namun, sebelum hari itu tiba, ada satu hal yang benar-benar ingin kulakukan.
Aku ingin melihat ibu bahagia.
Lebih bahagia daripada hari ini. Lebih bahagia daripada hari-hari ketika ia harus menyembunyikan lelahnya. Aku ingin suatu saat nanti ia dapat menjalani hidup tanpa terus-menerus memikirkan bagaimana caranya memenuhi kebutuhan anak-anaknya.
Aku ingin menjadi salah satu alasan di balik senyumnya.
Aku mencintai ibu.
Cinta. Cinta. Cinta. Cinta.
Barangkali, empat kali mengucapkan kata itu pun masih belum cukup untuk menjelaskan betapa besar perasaanku kepadanya.
Pernah suatu hari, dengan segala rasa bersalah yang kusimpan, aku berkata kepadanya, “Maaf, Bu. Aku belum bisa membahagiakan Ibu.”
Namun, ibu justru memelukku erat. Tidak ada tuntutan, tidak ada kekecewaan, apalagi kemarahan. Hanya pelukan hangat yang membuatku merasa begitu kecil di hadapannya.
“Jangan pernah berkata begitu dik,” ucapnya lembut. “Ibu bahagia melihat kamu bahagia. Ibu sayang kamu dan mbak L”
Dan saat itu, aku kembali memahami sesuatu.
Selama bertahun-tahun, aku terlalu sibuk meratapi kehilangan seseorang yang telah pergi, sampai lupa bahwa aku masih memiliki seseorang yang setiap hari memilih untuk tetap bertahan.
Aku ingin ibu bahagia.
Selama masih ada waktu, selama Tuhan masih mengizinkanku memanggilnya dengan sebutan Ibu.